<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>matanesiamagazine.com &#124; menjadi mata indonesia</title>
	<atom:link href="http://www.matanesiamagazine.com/?feed=rss2" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.matanesiamagazine.com</link>
	<description>menjadi mata indonesia</description>
	<lastBuildDate>Tue, 15 May 2012 14:51:56 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.2</generator>
		<item>
		<title>Sinyal Kereta Mulai Renta</title>
		<link>http://www.matanesiamagazine.com/?p=961</link>
		<comments>http://www.matanesiamagazine.com/?p=961#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 15 May 2012 14:51:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adminweb</dc:creator>
				<category><![CDATA[CITY LIFE]]></category>
		<category><![CDATA[SLIDE]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.matanesiamagazine.com/?p=961</guid>
		<description><![CDATA[&#160; Salah satu jenis rambu kereta api yang terdapat  di stasiun Surabaya kota atau stasiun Semut, Surabaya. Jenis rambu weissel yang digunakan sebagai sinyal pemindah jalur kereta api ini berfungsi untuk memberikan peringatan kepada kereta agar tidak di jalur yang sama pada satu waktu. Diperlukan dana triliunan rupiah untuk peremajaan persinyalan kereta api di Jawa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.matanesiamagazine.com/?attachment_id=962" rel="attachment wp-att-962"><img class="alignnone size-full wp-image-962" title="sinyal ka_e5" src="http://www.matanesiamagazine.com/wp-content/uploads/2012/05/sinyal-ka_e5.jpg" alt="" width="650" height="433" /></a></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Salah satu jenis rambu kereta api yang terdapat  di stasiun Surabaya kota atau stasiun Semut, Surabaya. Jenis rambu <em>weissel</em> yang digunakan sebagai sinyal pemindah jalur kereta api ini berfungsi untuk memberikan peringatan kepada kereta agar tidak di jalur yang sama pada satu waktu.</p>
<p>Diperlukan dana triliunan rupiah untuk peremajaan persinyalan kereta api di Jawa dan Sumatera.  Menurut PT KAI, dana yang cukup besar ini karena sebagian besar perangkat persinyalan masih diimpor.</p>
<p>Menurut Kondisi perangkat sinyal kereta yang berumur lebih dari 20 tahun ini dapat mengganggu sistem sinyal yang berimbas pada kacaunya jadwal kereta.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>foto : farid rusly| matanesiamagazine.com</strong>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.matanesiamagazine.com/?feed=rss2&#038;p=961</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Gelar Kesenian Banyuwangi</title>
		<link>http://www.matanesiamagazine.com/?p=937</link>
		<comments>http://www.matanesiamagazine.com/?p=937#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 12 May 2012 01:34:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adminweb</dc:creator>
				<category><![CDATA[ART AND CULTURE]]></category>
		<category><![CDATA[SLIDE]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.matanesiamagazine.com/?p=937</guid>
		<description><![CDATA[&#160; Para penari Jur Ngujur memperagakan salah satu gerakan tari pada sesi pemotretan di Taman Budaya Jawa Timur, Surabaya, Jumat (11/05).  Selain tari Jur Ngujur, beberapa tarian dan kesenian lain asal kabupaten Banyuwangi akan ditampilkan dalam pagelaran yang bertajuk Semarak Bumi Blambangan, diantaranya tari Kembang Pesisiran, aji Jaran Buto,Kucingan, pertunjukan musik khas Banyuwangi dan pagelaran [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.matanesiamagazine.com/?attachment_id=946" rel="attachment wp-att-946"><img class="alignnone size-full wp-image-946" title="tari banyuwangi1" src="http://www.matanesiamagazine.com/wp-content/uploads/2012/05/tari-banyuwangi11.jpg" alt="" width="650" height="433" /></a></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Para penari <em>Jur Ngujur</em> memperagakan salah satu gerakan tari pada sesi pemotretan di Taman Budaya Jawa Timur, Surabaya, Jumat (11/05).  Selain tari Jur Ngujur, beberapa tarian dan kesenian lain asal kabupaten Banyuwangi akan ditampilkan dalam pagelaran yang bertajuk Semarak Bumi Blambangan, diantaranya tari Kembang Pesisiran, aji Jaran Buto,Kucingan, pertunjukan musik khas Banyuwangi dan pagelaran Janger dengan lakon &#8220;JOKO UMBARAN&#8221;.<br />
Kemeriahan ini dikemas dalam sebuah acara bertajuk  &#8220;Gelar Seni Budaya&#8221; yang diselenggarakan mulai  11 &#8211; 13 Mei 2012.</p>
<p><strong>foto : farid rusly| matanesiamagazine.com</strong>.</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.matanesiamagazine.com/?feed=rss2&#038;p=937</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jamu Cekok Kulon Kerkop</title>
		<link>http://www.matanesiamagazine.com/?p=929</link>
		<comments>http://www.matanesiamagazine.com/?p=929#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 11 May 2012 07:53:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[CITY LIFE]]></category>
		<category><![CDATA[SLIDE]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.matanesiamagazine.com/?p=929</guid>
		<description><![CDATA[Meski ilmu pengobatan di zaman ­sekarang sudah canggih, namun masih banyak masyarakat memilih cara ­tradisional untuk mengobati anaknya. Setidaknya, itulah yang terlihat di warung Jampi Asli Kulon Kerkop yang berada di jalan Brigjen Katamso 132, Jogjakarta. Sejak pukul 06.00 hingga 19.30, satu persatu warga mulai datang untuk mencekok anaknya di warung yang didirikan alm Kertowiryo [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignnone size-full wp-image-930" title="jamu1" src="http://www.matanesiamagazine.com/wp-content/uploads/2012/05/jamu1.jpg" alt="" width="100%" /></p>
<p>Meski ilmu pengobatan di zaman ­sekarang sudah canggih, namun masih banyak masyarakat memilih cara ­tradisional untuk mengobati anaknya. Setidaknya, itulah yang terlihat di warung Jampi Asli Kulon Kerkop yang berada di jalan Brigjen Katamso 132, Jogjakarta.</p>
<p>Sejak pukul 06.00 hingga 19.30, satu persatu warga mulai datang untuk mencekok anaknya di warung yang didirikan alm Kertowiryo Raharjo pada 1875 itu. Mereka percaya ramuan jamu Cekok bikinan Zaelali (78) tersebut mampu menumbuhkan nafsu makan anak.</p>
<p><img class="size-medium wp-image-931 alignleft" title="jamu2" src="http://www.matanesiamagazine.com/wp-content/uploads/2012/05/jamu2-300x200.jpg" alt="" width="300" height="200" />Tak hanya itu saja, jamu yang terbuat dari campuran Temulawak, Lempuyang Emprit, Brotowali, Temu Ireng serta Pepaya tersebut juga diyakini mampu membunuh cacing dalam perut anak.</p>
<p>Istilah Cekok sendiri dalam bahasa Indonesia berarti meminumkan jamu secara paksa kepada anak. Biasanya, jamu cekok disajikan dengan dibungkus kain sebelum dijejalkan dan diperas ke dalam mulut si anak. &#8220;Pemaksaan&#8221; itu harus dilakukan karena rasa jamu Cekok sangat pahit dan biasanya tidak disukai anak-anak.</p>
<p><img class="alignleft size-medium wp-image-932" title="jamu3" src="http://www.matanesiamagazine.com/wp-content/uploads/2012/05/jamu3-300x200.jpg" alt="" width="300" height="200" />Harga jamu Cekok di warung yang terletak di sebelah barat bangunan bekas kuburan Belanda (Kerkhof; Belanda, sekarang menjadi Purawisata) itu hanya Rp. 3.000,-. Menurut Zaelali, ia tidak ­mengambil keuntungan besar dari usahanya itu. Hanya Rp. 300,- saja untuk setiap bungkusnya. Sebab, bagi Zaelali, usahanya bisa jalan saja sudah cukup. Apalagi, dia juga ingin membantu anak-anak yang sakit lewat obat tradisional dan sekaligus semata-mata untuk melestarikan warisan nenek moyangnya.</p>
<p><strong>naskah dan foto: muhammad asim</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.matanesiamagazine.com/?feed=rss2&#038;p=929</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Purnama Perdamaian Umat Manusia</title>
		<link>http://www.matanesiamagazine.com/?p=925</link>
		<comments>http://www.matanesiamagazine.com/?p=925#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 11 May 2012 07:47:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[ART AND CULTURE]]></category>
		<category><![CDATA[SLIDE]]></category>
		<category><![CDATA[TRAVEL]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.matanesiamagazine.com/?p=925</guid>
		<description><![CDATA[Sore itu kawasan candi Penataran di Kecamatan Nglegok, Blitar, Jawa Timur terlihat berbeda.tidak seperti biasa. Di gerbang candi terdapat pintu masuk yang terbuat dari bambu dan janur.  Di dekat pintu, dua pemuda berjaga dengan pakaian ala prajurit . Panggung utama yang juga merupakan bagian dari situs Candi Penataran bertabur cahaya warna-warni. Pendar ratusan lilin yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignnone size-full wp-image-926" title="candi" src="http://www.matanesiamagazine.com/wp-content/uploads/2012/05/candi.jpg" alt="" width="100%" /></p>
<p>Sore itu kawasan candi Penataran di Kecamatan Nglegok, Blitar, Jawa Timur terlihat berbeda.tidak seperti biasa. Di gerbang candi terdapat pintu masuk yang terbuat dari bambu dan janur.  Di dekat pintu, dua pemuda berjaga dengan pakaian ala prajurit .</p>
<p>Panggung utama yang juga merupakan bagian dari situs Candi Penataran bertabur cahaya warna-warni. Pendar ratusan lilin yang dibungkus oleh pelepah pisang menambah keelokan candi petang itu. Samar-samar, kejayaan Nusantara masa silam merefleksi di kompleks candi yang berada di lereng barat daya Gunung Kelud ini.</p>
<p>Menjelang malam, komplek candi Penataran riuh oleh bermacam atraksi seni. Sinar bulan yang elok  menjadi inspirasi bagi kota Blitar untuk menggelar Purnama Seruling Penataran.</p>
<p>Purnama memang sedang bersembunyi di balik awan malam itu, namun perhelatan seni tetap berlangsung semarak. Pementasan seni oleh beberapa kalangan termasuk dari beberapa Negara tetangga membuat penonton tak beranjak dari lingkungan candi. Mulai dari campursari yang dibawakan oleh karyawan Pemkab Blitar hingga penari dari India, Laos dan Madagaskar.</p>
<p>Pementasan sendra tari  dengan lakon &#8216;Sri Tanjung&#8217; menjadi puncak acara Purnama Serulimg Purnama malam itu. Cerita Sri Tanjung sendiri diambil dari penggalan cerita yang ada di salah satu relief Candi Penataran.</p>
<p>Purnama Seruling Penataran adalah sebuah persembahan kepada Tuhan pemilik alam semesta. Bukan manusia yang menentukan kapan pertunjukan ini harus diselenggarakan, akan tetapi alam semesta yang akan mengatur semua ini.  Candi Penataran akan menjadi panggung persembahan setiap kali bulan purnama muncul. Berbagai macam seni budaya, Nusantara dan Dunia akan saling berbagi keindahan pada malam purnama tersebut. Mereka akan “ditatar” untuk berbagi keindahan dalam semangat persaudaraan dan perdamaian.</p>
<p>Menjaga persaudaraan dan perdamaian bagi semua umat di dunia menjadi misi penting  bagi penyelenggaraan Purnama Serulimg Penataran.<br />
Di masa lalu, Candi Penataran telah menjadi panggung pagelaran bagi delegasi kerajaan di mancanegara. Jejak kejayaan ini yang kemudian diwujudkan dalam Purnama Seruling Penataran. Istilah Purnama Seruling Penataran diambil dari legenda masyarakat yang dahulu menyambut bulan purnama dengan tiupan seruling.</p>
<p>Khusus tahun 2012 ini, Seruling Purnama Penataran hanya diselenggarakan sebanyak 3 kali. Langkah ini dilakukan untuk mencapai kualitas penyelenggaraan yang tahun sebelumnya dilaksanakan tiap bulan.</p>
<p><strong>naskah dan foto: boby noviarto pribadi | matanesiamagazine.com</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.matanesiamagazine.com/?feed=rss2&#038;p=925</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menebar Pesona Jawa Timur</title>
		<link>http://www.matanesiamagazine.com/?p=913</link>
		<comments>http://www.matanesiamagazine.com/?p=913#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 May 2012 15:34:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adminweb</dc:creator>
				<category><![CDATA[NEWS]]></category>
		<category><![CDATA[TRAVEL]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.matanesiamagazine.com/?p=913</guid>
		<description><![CDATA[&#160; Potensi wisata Jawa Timu tetap memesona agen-agen wisata nasional dan mancanegara. Perhelatan Majapahit Travel Fair (MTF) 2012 yang dibuka Kamis (10/5) kembali menjadi wadah bagi penyelenggara perjalanan untuk  menentukan agenda promosinya. Pertemuan bisnis pelaku industri pariwisata Jawa Timur ini digelar hingga 13 Mei mendatang dilaksanakan di Grand City Mall, Surabaya.  Catatan Biro Pusat Statistik [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.matanesiamagazine.com/?attachment_id=919" rel="attachment wp-att-919"><img class="alignnone size-full wp-image-919" title="majapahit-travel-fair" src="http://www.matanesiamagazine.com/wp-content/uploads/2012/05/majapahit-travel-fair1.jpg" alt="" width="650" height="378" /></a></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Potensi wisata Jawa Timu tetap memesona agen-agen wisata nasional dan mancanegara. Perhelatan Majapahit Travel Fair (MTF) 2012 yang dibuka Kamis (10/5) kembali menjadi wadah bagi penyelenggara perjalanan untuk  menentukan agenda promosinya.</p>
<p>Pertemuan bisnis pelaku industri pariwisata Jawa Timur ini digelar hingga 13 Mei mendatang dilaksanakan di Grand City Mall, Surabaya.  Catatan Biro Pusat Statistik Jawa Timur menyebutkan jumlah wisatawan mancanegara yang datang ke Jatim melalui pintu bandara Juanda pada bulan Maret 2012 mencapai 16.257 orang. Angka ini naik 13,76 % dibanding  kunjungan wisman pada bulan Februari 2012 yang sebanyak  14.290 orang.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>foto : budi Irawan| matanesiamagazine.com</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.matanesiamagazine.com/?feed=rss2&#038;p=913</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Matanesia e-Magz Edisi 08 (April-Mei 2012)</title>
		<link>http://www.matanesiamagazine.com/?p=894</link>
		<comments>http://www.matanesiamagazine.com/?p=894#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 10 Apr 2012 08:23:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[E-MAGAZINE]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.matanesiamagazine.com/?p=894</guid>
		<description><![CDATA[&#160; Matanesia e-Magz bisa Anda download secara cuma-cuma di halaman ini. Pilih spesifikasi file yang Anda kehendaki, lalu klik kanan di link yang anda pilih, lalu ‘save link as’ atau ‘save target as’ Matanesia e-Magz Edisi 08 (April-Mei 2012) - Di edisi ini pembaca diajak untuk menikmati pesona Candi Panataran di Blitar, Jamu Cekok di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&nbsp;</p>
<p>Matanesia e-Magz bisa Anda download secara cuma-cuma di halaman ini. Pilih spesifikasi file yang Anda kehendaki, lalu klik kanan di link yang anda pilih, lalu ‘save link as’ atau ‘save target as’</p>
<p><strong><img class="alignleft" title="cover-emagz7" src="http://www.matanesiamagazine.com/wp-content/uploads/2012/04/MATANESIA-MAGAZINE-08.jpg" alt="" width="220" height="220" />Matanesia e-Magz Edisi 08 (April-Mei 2012) -</strong> Di edisi ini pembaca diajak untuk menikmati pesona Candi Panataran di Blitar, Jamu Cekok di Kulon Kerkop, Ruang Makan Impian, Merawat<br />
Orang Utan Berharap Damai, dan masih banyak lagi. Seperti biasa, catatan-catatan ini disajikan dalam pendekatan visual dan informatif. Download Matanesia e-Magazine di link berikut.</p>
<p><strong><a href="http://matanesia.com/download/edisi08/MATANESIA-MAGAZINE-08-pdf.rar">VERSI PDF</a> | </strong><strong><a href="http://matanesia.com/download/edisi08/Matanesia-Magazine-edisi8-exe.rar">FLIP VERSION</a></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.matanesiamagazine.com/?feed=rss2&#038;p=894</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Panggung Kebebasan Mantan Tahanan</title>
		<link>http://www.matanesiamagazine.com/?p=881</link>
		<comments>http://www.matanesiamagazine.com/?p=881#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 05 Apr 2012 01:20:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adminweb</dc:creator>
				<category><![CDATA[ART AND CULTURE]]></category>
		<category><![CDATA[SLIDE]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.matanesiamagazine.com/?p=881</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Ibu.. ibu.. ibu.. , ibu.. ibu.. ibu….”. Jeritan Eko seolah merindukan sosok ibunya. Berulang dia ungkapkan rasa rindu itu dengan berteriak kembali. Namun tak satupun jawaban yang dia dapat. Sementara,  Wahyu sambil mengepalkan tangan menyanyikan lagu kebabasan setelah sekian tahun berada di balik terali besi. Drama di atas adalah bagian dari pementasan teater berjudul &#8220;Maha [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.matanesiamagazine.com/?attachment_id=882" rel="attachment wp-att-882"><img class="alignnone size-full wp-image-882" title="teateranak01" src="http://www.matanesiamagazine.com/wp-content/uploads/2012/04/teateranak01.gif" alt="" width="650" height="432" /></a></p>
<p>&#8220;Ibu.. ibu.. ibu.. , ibu.. ibu.. ibu….”. Jeritan Eko seolah merindukan sosok ibunya. Berulang dia ungkapkan rasa rindu itu dengan berteriak kembali. Namun tak satupun jawaban yang dia dapat. Sementara,  Wahyu sambil mengepalkan tangan menyanyikan lagu kebabasan setelah sekian tahun berada di balik terali besi.</p>
<p>Drama di atas adalah bagian dari pementasan teater berjudul &#8220;Maha Ibu&#8221; di gedung Cak Durasim, Surabaya Rabu (4/4) . Diangkat dari kisah nyata para aktor remaja yang merupakan eks tahanan di Lembaga Pemasyarakatan Anak (LPA).</p>
<p><a href="http://www.matanesiamagazine.com/?attachment_id=883" rel="attachment wp-att-883"><img class="alignnone size-full wp-image-883" title="teateranak1" src="http://www.matanesiamagazine.com/wp-content/uploads/2012/04/teateranak1.gif" alt="" width="400" height="266" /></a></p>
<p>Melalui pendekatan psiko terapi Eko, Wahyu, Fredi dan Mustofa mengisahkan diri mereka sendiri sejak di tahanan hingga mencapai kebebasan. Lewat teater diharapkan kepercayaan diri mereka tumbuh lebih baik.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>foto : budi irawan| matanesiamagazine.com</strong>.</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.matanesiamagazine.com/?feed=rss2&#038;p=881</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>60 Menit yang Berarti</title>
		<link>http://www.matanesiamagazine.com/?p=876</link>
		<comments>http://www.matanesiamagazine.com/?p=876#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 01 Apr 2012 12:46:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adminweb</dc:creator>
				<category><![CDATA[CITY LIFE]]></category>
		<category><![CDATA[NEWS]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.matanesiamagazine.com/?p=876</guid>
		<description><![CDATA[Ratusan lilin menjadi simbol peringatan Earth Hour untuk penyelamatan bumi dari pemanasan global. Bertempat di area parkir Grand City Mall , warga  Surabaya berpartisipasi dalam program yang digagas World Wildlife Fund (WWF) Indonesia pada Sabtu (31/3). Sejumlah mall dan perkantoran di Surabaya berpartisipasi dalam program ini dengan mematikan listrik selama 60 menit sejak pukul 20.30 [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.matanesiamagazine.com/?attachment_id=877" rel="attachment wp-att-877"><img class="alignnone size-full wp-image-877" title="earthour1" src="http://www.matanesiamagazine.com/wp-content/uploads/2012/04/earthour1.gif" alt="" width="650" height="434" /></a></p>
<p>Ratusan lilin menjadi simbol peringatan <em>Earth Hour</em> untuk penyelamatan bumi dari pemanasan global. Bertempat di area parkir Grand City Mall , warga  Surabaya berpartisipasi dalam program yang digagas World Wildlife Fund (WWF) Indonesia pada Sabtu (31/3). Sejumlah mall dan perkantoran di Surabaya berpartisipasi dalam program ini dengan mematikan listrik selama 60 menit sejak pukul 20.30 &#8211; 21.30.</p>
<p>Menurut catatan WWF, sebesar 5.580 mega watt listrik bisa dihemat lewat program pemadaman listrik  dengan melibatkan 26 kota di seluruh Indonesia ini.</p>
<p><strong>foto : nugroho trihamdani| matanesiamagazine.com</strong>.</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.matanesiamagazine.com/?feed=rss2&#038;p=876</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Potret Negeri Dalam Panji Remeng</title>
		<link>http://www.matanesiamagazine.com/?p=866</link>
		<comments>http://www.matanesiamagazine.com/?p=866#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 31 Mar 2012 00:37:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adminweb</dc:creator>
				<category><![CDATA[ART AND CULTURE]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.matanesiamagazine.com/?p=866</guid>
		<description><![CDATA[Terinspirasi dari cerita wayang gedhog karya (alm) AM. Munardi. Kisah Panji Remeng, sebutan dari penjelmaan seorang pengasuh Panji Inukertopati, kembali dipentaskan di Gedung Cak Durasim Surabaya, Kamis (30/3) malam. &#160; Kisah ini coba digubah dengan memberikan sentilan terhadap kondisi politik di negeri ini. Heri Lentho, produser pertunjukan Panji Remeng mengungkapkan, spirit cerita Panji Remeng ini [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.matanesiamagazine.com/?attachment_id=867" rel="attachment wp-att-867"><img class="alignnone size-full wp-image-867" title="tari1panjiremeng" src="http://www.matanesiamagazine.com/wp-content/uploads/2012/03/tari1panjiremeng.gif" alt="" width="650" height="432" /></a></p>
<p>Terinspirasi dari cerita wayang gedhog karya (alm) AM. Munardi. Kisah Panji Remeng, sebutan dari penjelmaan seorang pengasuh Panji Inukertopati, kembali dipentaskan di Gedung Cak Durasim Surabaya, Kamis (30/3) malam.</p>
<p><a href="http://www.matanesiamagazine.com/?attachment_id=868" rel="attachment wp-att-868"><img class="alignnone size-full wp-image-868" title="tari3panjiremeng1" src="http://www.matanesiamagazine.com/wp-content/uploads/2012/03/tari3panjiremeng1.gif" alt="" width="450" height="299" /></a></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kisah ini coba digubah dengan memberikan sentilan terhadap kondisi politik di negeri ini. Heri Lentho, produser pertunjukan Panji Remeng mengungkapkan, spirit cerita Panji Remeng ini mirip dengan cerita pada epos Mahabarata, yaitu Petruk Dadi Ratu. Sebuah kritik terhadap para bangsawan atau ksatria di level atas agar lebih baik dalam memimpin negeri dan mengedepankan kepentingan rakyatnya.</p>
<p><strong>foto : budi irawan| matanesiamagazine.com</strong>.</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.matanesiamagazine.com/?feed=rss2&#038;p=866</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pameran Kenangan CCCL</title>
		<link>http://www.matanesiamagazine.com/?p=850</link>
		<comments>http://www.matanesiamagazine.com/?p=850#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 28 Mar 2012 01:13:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adminweb</dc:creator>
				<category><![CDATA[ART AND CULTURE]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.matanesiamagazine.com/?p=850</guid>
		<description><![CDATA[Christian Gaujac, direktur IFI (Institut Français d’Indonésie) Surabaya menghentikan pidatonya di teras depan galeri. Tak kuasa menahan tangis dan terdiam sejenak.  Krisnha, sang anak buah tanggap dan meneruskan membawakan acara sambutan pameran &#8221; CCCL Tempoe Doeloe&#8221; di galeri IFI, Senin (27/3). Di awal pidato, Gaujaj memang terlihat bersemangat dan gembira. Apalagi saat memberitahukan kepada undangan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.matanesiamagazine.com/?attachment_id=851" rel="attachment wp-att-851"><img class="alignnone size-full wp-image-851" title="ifi-pameran" src="http://www.matanesiamagazine.com/wp-content/uploads/2012/03/ifi-pameran.gif" alt="" width="650" height="432" /></a></p>
<p>Christian Gaujac, direktur IFI (Institut Français<br />
d’Indonésie) Surabaya menghentikan pidatonya di<br />
teras depan galeri. Tak kuasa menahan tangis dan<br />
terdiam sejenak.  Krisnha, sang anak buah tanggap<br />
dan meneruskan membawakan acara sambutan pameran &#8221;<br />
CCCL Tempoe Doeloe&#8221; di galeri IFI, Senin (27/3).</p>
<p>Di awal pidato, Gaujaj memang terlihat bersemangat<br />
dan gembira. Apalagi saat memberitahukan kepada<br />
undangan bahwa bangunan yang digunakan IFI<br />
Surabaya di jalan Darmokali 10 itu akhirnya ditetapkan<br />
sebagi situs cagar budaya.</p>
<p>Pameran kali ini berisi ratusan karya seniman lokal<br />
dan Prancis yang pernah dilakukan di IFI selama<br />
beberapa tahun terakhir. &#8220;Kami persembahkan pameran<br />
ini untuk dedikasi para seniman dan masyarakat yang<br />
telah berkolaborasi bersama kami &#8220;, kata Gaujac.</p>
<p>Malam itu, luapan emosi seakan membuncah di tiap<br />
pengurus dan staf IFI Surabaya. Gedung yang mereka<br />
tempati akan segera ditinggalkan mulai April 2012.<br />
Luapan emosi ditunjukkan dengan foto-foto bersama<br />
di tiap sudut gedung, termasuk yang dilakukan para<br />
undangan.</p>
<p>Sempat berganti nama 2 kali (Centre Culturel<br />
Français (CCF), lalu Centre Culturel et de<br />
Coopération Linguistique (CCCL)), pusat kebudayaan<br />
Prancis, yang mulai 1 Januari 2012 bernama Institut<br />
Français d’Indonésie &#8211; centre de Surabaya atau IFI<br />
– Surabaya, akan pindah ke lokasi baru pada bulan<br />
April mendatang, di jalan Ratna No. 14 (kompleks<br />
AJBS) Surabaya.</p>
<p>Bangunan di Jalan Darmokali no. 10 Surabaya ini,<br />
sebagian orang mengenalnya sebagai konsulat<br />
Prancis, sebagian lagi tahu di sana adalah tempat<br />
belajar bahasa Prancis, sebagian merujuk tempat<br />
tersebut sebagai salah satu tempat aktivitas seni<br />
budaya, dari Prancis dan Indonesia, di Surabaya,<br />
yang terbuka untuk siapa saja.</p>
<p>Rumah yang berasitektur  kolonial itu adalah rumah kedua<br />
bagi para seniman, pegiat seni dan budaya dan<br />
siapapun yang menyukai Prancis serta bangunan<br />
tersebut. Rumah tempat para seniman dari beragam<br />
bangsa saling bertemu, berkarya, serta menjalin<br />
relasi dengan publik, sejak tahun 1967. Bangunan<br />
itu sendiri menjadi saksi sejarah selama 45 tahun<br />
terjadinya hubungan persahabatan yang baik antara<br />
Prancis dan Surabaya<strong></strong></p>
<p><strong></strong><strong>mamuk ismuntoro &#8211; foto : boby noviarto| matanesiamagazine.com</strong>.</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.matanesiamagazine.com/?feed=rss2&#038;p=850</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

<!-- Performance optimized by W3 Total Cache. Learn more: http://www.w3-edge.com/wordpress-plugins/

Served from: www.matanesiamagazine.com @ 2012-05-21 11:31:00 -->
